Sunday, 30 April 2017

Menjadi Pendidik Berkarakter Islami untuk Generasi Rabbani




Akhir-akhir ini kita menyaksikan betapa perubahan zaman yang begitu dahsyat, betapa perubahan sistem sosial yang begitu cepat, dan betapa cepatnya pula perubahan moral manusia ini. Kita dengan adanya informasi, teknologi-informasi mendengar berbagai macam tindakan amoral di negeri yang mayoritas berpenduduk beragama Islam. Selain daripada itu, kemiskinan, kebodohan dan segala macam tindakan maksiat begitu canggihnya terjadi di lingkungan kita. Ini semuanya adalah sebuah masalah besar, dan kita adalah manusia-manusia yang berada di dalam masyarakat yang seperti ini. Orang-orang sudah tidak peduli lagi dengan masalah agama. Ulama dilecehkan, di sekolah sudah terjadi degradasi moral yang luar biasa. Narkoba sudah masuk ke sekolah-sekolah. Lalu seperti apa tawaran Islam? Seperti apa sebenarnya Islam yang seharusnya? Kalau orang mengatakan bahwa ini adalah hasil dari orang-orang yang beragama Islam, itu satu kesalahan besar. Bangsa ini rusak bukan karena Islam tetapi karena jauh dari Islam. Bangsa ini sakit bukan karena mereka menjalankan agama Islam, karena mereka justru jauh dari menjalankan syari`at Islam.


Maka dari semua hal itulah diperlukan sistem pendidikan yang mumpuni. Empat hal penting yang ada dalam pendidikan adalah pendidik, metode pendidikan, yang dididik, dan bahan pendidikan. Pendidik merupakan salah satu hal yang terpenting. 

Lalu bagaimanakah menjadi pendidik yang profesional dan islami?
 Pertama : Meniatkan ikhlas karena Allah semata
Sifat yang paling utama adalah Takwa dan Ikhlas karena Allah.  Seorang guru dengan ilmu dan penguasaan pendidikannya wajib hanya mencari ridlo Allah, bukan karena gaji, pujian dari atasannya, demi ketenaran, promosi jabatan ataupun yang lainnya.  Dari Abi Hurairah, Rasulullah SAW bersabda:

 «مَنْ تَعَلَّمَ عِلْماً مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَتَعَلَّمُهُ إِلَّا لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنْ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَة،ِ يَعْنِي رِيحَهَا»
  “Siapa pun yang mempelajari suatu ilmu yang difokuskan mengharap pada ridho Allah SWT, tetapi ia mempelajari ilmu hanya untuk mendapatkan keuntungan duniawi semata, maka ia tidak akan mencium wangi surga di akhirat nanti”.

 Kedua : Membekali diri dengan ilmu
Guru juga harus bersifat rendah hati, Ibnu ‘Abdi al Barri meriwayatkan dalam kitab “Jami’ bayaani al-‘ilmi wa fadhluhu” dari ‘Umar bin Khaththab r.a. mengatakan:
 Carilah ilmu dan ajarkan pada orang-orang, dan belajarlah tentang kehormatan dan ketenangan, dan rendah hati lah kepada orang yang kalian belajar darinya dan juga kepada orang yang kalian ajari, jangan menjadi guru pemaksa dan jangan bertindak bodoh dengan ilmu kalian”
 Beliau adalah guru sekaligus murid, sehingga tidak heran seorang guru akan mendapat manfaat ilmu dari apa yang dimiliki murid-muridnya.  Bahkan guru akan mudah merevisi kesalahan yang terjadi pada dirinya, atau mengatakan: “ Saya tidak tahu “ atau “ Allah lebih mengatahuinya…” terhadap sesuatu yang belum ia ketahui.  Hal inilah yang menjadikan ia memiliki kebesaran jiwa, rendah hati dan tidak lancang mengeluarkan fatwa tanpa dilandasi ilmu. 

Ketiga : Menjadi teladan yang baik bagi anak didiknyaGuru bukanlah gudang ilmu, tempat murid-murid menimba ilmu pengetahuan, namun ia adalah suri tauladan. Teladan adalah unsur penting dalam penilaian baik dan buruknya guru.  Jika ia jujur, amanah, mulia, berani, menjaga diri, berhias dengan akhlak-akhlak yang baik, maka murid-muridnya akan tumbuh menjadi orang yang jujur, amanah, berakhlak mulia, berani dan menjaga diri.  Sebaliknya, jika guru berbohong, khianat, munafik, pengecut, maka murid pun akan tumbuh dengan sifat dan akhlak tersebut.   Pendidikan dengan teladan lebih efektif dan kuat pengaruhnya dibanding perkatan teoritis semata. Dan bagaimana jika perbuatan berbeda dengan perkataan, dan tingkah laku menyalahi arahan? Sungguh, Al-Qur’anul Karim telah meratapi keturunan Bani Israil dalam ayat:

 ﴿أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلَا تَعْقِلُونَ[البقرة: 44].
 Artinya: “Mengapa kalian menyuruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kalian melupakan diri (kewajiban) sendiri, padahal kalian membaca Al kitab (Taurat)? Maka tidaklah kalian berpikir? 

Keempat : Amanah terhadap pekerjaannyaSeorang guru adalah adalah seorang hamba Allah yang mendapat amanah untuk mengajar dan mendidik anak murid yang nantinya akan menjadi penerus bangsa. Amanah yang diemban seorang guru merupakan bagian dari amanah yang diemban sebagai khalifah di muka bumi. Maka tidak sempurna pelaksanaan amanah sebagai sebagai seorang khalifah bumi ini jika amanah mengajarnya tidak dilakukan secara sempurna. Sebagaimana karakter potensi fitrah pada umumnya, maka fitrah menjadi guru hanya bisa optimal dalam aplikasinya jika amanah itu dijalankan secara ikhlas. Allah SWT berfirman:

 إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَن يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنسَانُ ۖ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا﴿٧٢﴾ “Sesungguhnya kami Telah mengemukakan amanah kepada langit, bumi dan gunung-gunung, Maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zhalim dan amat bodoh,” (QS. Al-Ahzab: 72).
Kelima : Berdoa kepada Allah dan Mendoakan anak didiknyaKekuatando’alah yang bisa menyatukan hati-hati ini, karena sesungguhnya do’a kita kepada sesama muslim akan menjadi amal yang sangat bernilai, kekuatan do’a ini pula yang akan membukakan hati kita semua, memudahkan masuknya hidayah, dan menjauhkan godaan syetan. Mendoakan murid menjadi kewajiban bagi seorang guru.

 “Dan jika mereka bermaksud menipumu, maka sesungguhnya cukuplah Allah (menjadi pelindungmu). Dialah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan dengan para mukmin, dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman)[622]. Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana.” (Qs. Al Anfal 62-63) 

Keenam : Bersikap sabar menghadapi perilaku anak didiknyaTermasuk sifat penting bagi guru adalah sabar, bijaksana, panjang pemikiran.  Wajib bagi guru pendidik sebagai pencetak generasi untuk mengikuti metode dan aqidah Laa Ilaha illallah Muhammad ar Rasulullah agar menjadi sabar dan bijak sehingga ia dapat memikul tugas.  Dan untuk kesabaran dan kebijaksanaannya itu telah disediakan pahala besar disisi Allah SWT, sebagaiman firman-Nya:

 “ …Dan Allah menyukai orang-orang yang sabar …”. 


 Begitupun baginda Rasulullah SAW menyuruh bersabar, bahkan dalam situasi yang sulit. Panjang pemikiran dan keluasan hati adalah perkara penting terutama saat guru menyadari bahwa pahala dari Allah tengah menanti dan bahwa murid-muridnya itu adalah amanah yang diletakkan di atas pundaknya. Hendaknya guru menyadari bahwa setiap murid mempunyai kemampuan dan kecenderungan yang berbeda-beda, punya keinginan, punya masalah dan perhatian yang berbeda.  Dan guru adalah ayah dan pendidik bagi mereka yang mesti meluaskan hatinya untuk mereka, menyayangi dan mengasihi, lembut dan bersabar atas sulitnya mengajari mereka dan menjelaskan pemikiran kepada mereka dengan ragamnya kemampuan, keinginan, perilaku dan tingkat berfikir mereka, karena diantara murid ada yang mampu memahami ungkapan dan pelajaran dengan satu kali penjelasan, dan ada yang mesti berulang kali dan dengan penjealasan yang rinci. 

 Rasulullah SAW bersabda:  “Sesungguhnya Allah tidak mengutusku sebagai orang yang menyusahkan dan merendahkan orang lain. Akan tetapi, Allah mengutusku sebagai seorang pengajar (guru) dan pemberi kemudahan.” (HR. Muslim). 

Kita sebagai seorang muslim sebenarnya  sudah mempunyai contoh pendidik yang baik yaitu Nabi Muhammad SAW. Rosulullah telah melahirkan sahabat yang rabbani. Menurut  Al-Ghazali pengertian rabbani adalah orang yang mendekat kepada Allah dengan ibadah dan keilmuannya. Oleh sebab itu, wajiblah para pendidik menerapkan hal-hal yang dipaparkan diatas untuk mencetak generasi Indonesia yang rabbani.



Ngaji Bareng Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP)

Kamis, 1 Sya’ban 1438 H27 pukul 15.30 WIB
Masjid Mamba'ul Ulum, Universitas Tidar
Oleh Ustadz Muhammad Dzaky Zamani, B.A  

SHARE THIS

Author:

Etiam at libero iaculis, mollis justo non, blandit augue. Vestibulum sit amet sodales est, a lacinia ex. Suspendisse vel enim sagittis, volutpat sem eget, condimentum sem.

0 comments: