Akhir-akhir
ini kita menyaksikan betapa perubahan zaman yang begitu dahsyat, betapa
perubahan sistem sosial yang begitu cepat, dan betapa cepatnya pula perubahan
moral manusia ini. Kita dengan adanya informasi, teknologi-informasi mendengar berbagai
macam tindakan amoral di negeri yang mayoritas berpenduduk beragama Islam.
Selain daripada itu, kemiskinan, kebodohan dan segala macam tindakan maksiat
begitu canggihnya terjadi di lingkungan kita. Ini semuanya adalah sebuah
masalah besar, dan kita adalah manusia-manusia yang berada di dalam masyarakat
yang seperti ini. Orang-orang
sudah tidak peduli lagi dengan masalah agama. Ulama dilecehkan, di sekolah
sudah terjadi degradasi moral yang luar biasa. Narkoba sudah masuk ke
sekolah-sekolah. Lalu seperti apa tawaran Islam? Seperti apa sebenarnya Islam
yang seharusnya? Kalau orang mengatakan bahwa ini adalah hasil dari orang-orang
yang beragama Islam, itu satu kesalahan besar. Bangsa ini rusak bukan karena Islam
tetapi karena jauh dari Islam. Bangsa ini sakit bukan karena mereka menjalankan
agama Islam, karena mereka justru jauh dari menjalankan syari`at Islam.
Maka dari semua
hal itulah diperlukan sistem pendidikan yang mumpuni. Empat hal penting yang
ada dalam pendidikan adalah pendidik, metode pendidikan, yang dididik, dan
bahan pendidikan. Pendidik merupakan salah satu hal yang terpenting.
Lalu bagaimanakah
menjadi pendidik yang profesional dan islami?
Sifat yang paling utama adalah Takwa dan Ikhlas karena
Allah. Seorang guru dengan ilmu dan penguasaan pendidikannya wajib hanya
mencari ridlo Allah, bukan karena gaji, pujian dari atasannya, demi ketenaran,
promosi jabatan ataupun yang lainnya. Dari Abi Hurairah, Rasulullah SAW
bersabda:
«مَنْ تَعَلَّمَ عِلْماً مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ
وَجَلَّ لَا يَتَعَلَّمُهُ إِلَّا لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنْ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَة،ِ يَعْنِي رِيحَهَا»
“Siapa pun yang mempelajari suatu ilmu yang difokuskan mengharap
pada ridho Allah SWT, tetapi ia mempelajari ilmu hanya untuk mendapatkan
keuntungan duniawi semata, maka ia tidak akan mencium wangi surga di akhirat
nanti”.
Kedua : Membekali diri dengan
ilmu
Guru juga harus bersifat rendah hati, Ibnu ‘Abdi al
Barri meriwayatkan dalam kitab “Jami’ bayaani al-‘ilmi wa fadhluhu” dari ‘Umar bin
Khaththab r.a. mengatakan:
“Carilah ilmu dan ajarkan pada
orang-orang, dan belajarlah tentang kehormatan dan ketenangan, dan rendah hati
lah kepada orang yang kalian belajar darinya dan juga kepada orang yang kalian
ajari, jangan menjadi guru pemaksa dan jangan bertindak bodoh dengan ilmu
kalian”.
Beliau adalah guru sekaligus murid, sehingga tidak
heran seorang guru akan mendapat manfaat ilmu dari apa yang dimiliki
murid-muridnya. Bahkan guru akan mudah merevisi kesalahan yang terjadi
pada dirinya, atau mengatakan: “ Saya tidak tahu “ atau “ Allah lebih
mengatahuinya…” terhadap sesuatu yang belum ia ketahui. Hal inilah yang
menjadikan ia memiliki kebesaran jiwa, rendah hati dan tidak lancang
mengeluarkan fatwa tanpa dilandasi ilmu.
Ketiga : Menjadi teladan yang
baik bagi anak didiknyaGuru bukanlah gudang ilmu, tempat murid-murid menimba
ilmu pengetahuan, namun ia adalah suri tauladan. Teladan adalah unsur penting
dalam penilaian baik dan buruknya guru. Jika ia jujur, amanah, mulia,
berani, menjaga diri, berhias dengan akhlak-akhlak yang baik, maka
murid-muridnya akan tumbuh menjadi orang yang jujur, amanah, berakhlak mulia,
berani dan menjaga diri. Sebaliknya, jika guru berbohong, khianat,
munafik, pengecut, maka murid pun akan tumbuh dengan sifat dan akhlak
tersebut. Pendidikan
dengan teladan lebih efektif dan kuat pengaruhnya dibanding perkatan teoritis
semata. Dan bagaimana jika perbuatan berbeda dengan perkataan, dan tingkah laku
menyalahi arahan? Sungguh, Al-Qur’anul Karim telah meratapi keturunan Bani
Israil dalam ayat:
﴿أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ
بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلَا
تَعْقِلُونَ﴾ [البقرة: 44].
Artinya: “Mengapa kalian menyuruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang
kalian melupakan diri (kewajiban) sendiri, padahal kalian membaca Al kitab
(Taurat)? Maka tidaklah kalian berpikir?
Keempat : Amanah terhadap
pekerjaannyaSeorang
guru adalah adalah seorang hamba Allah yang mendapat amanah untuk mengajar dan
mendidik anak murid yang nantinya akan menjadi penerus bangsa. Amanah yang
diemban seorang guru merupakan bagian dari amanah yang diemban sebagai khalifah
di muka bumi. Maka tidak sempurna pelaksanaan amanah sebagai sebagai seorang
khalifah bumi ini jika amanah mengajarnya tidak dilakukan secara sempurna. Sebagaimana
karakter potensi fitrah pada umumnya, maka fitrah menjadi guru hanya bisa
optimal dalam aplikasinya jika amanah itu dijalankan secara ikhlas. Allah SWT berfirman:
Kelima : Berdoa kepada Allah
dan Mendoakan anak didiknyaKekuatando’alah yang bisa
menyatukan hati-hati ini, karena sesungguhnya do’a kita kepada sesama muslim
akan menjadi amal yang sangat bernilai, kekuatan do’a ini pula yang akan
membukakan hati kita semua, memudahkan masuknya hidayah, dan menjauhkan godaan
syetan. Mendoakan murid menjadi kewajiban
bagi seorang guru.
“Dan jika
mereka bermaksud menipumu, maka sesungguhnya cukuplah Allah (menjadi
pelindungmu). Dialah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan dengan para
mukmin, dan Yang
mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman)[622].
Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu
tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan
hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana.” (Qs. Al Anfal
62-63)
Keenam : Bersikap sabar
menghadapi perilaku anak didiknyaTermasuk sifat penting bagi guru
adalah sabar, bijaksana, panjang pemikiran. Wajib bagi guru pendidik
sebagai pencetak generasi untuk mengikuti metode dan aqidah Laa Ilaha illallah Muhammad ar Rasulullah agar menjadi sabar dan bijak sehingga ia dapat memikul
tugas. Dan untuk kesabaran dan kebijaksanaannya itu telah disediakan
pahala besar disisi Allah SWT, sebagaiman firman-Nya:
Begitupun baginda Rasulullah SAW
menyuruh bersabar, bahkan dalam situasi yang sulit. Panjang pemikiran dan
keluasan hati adalah perkara penting terutama saat guru menyadari bahwa pahala
dari Allah tengah menanti dan bahwa murid-muridnya itu adalah amanah yang
diletakkan di atas pundaknya. Hendaknya guru menyadari bahwa setiap murid
mempunyai kemampuan dan kecenderungan yang berbeda-beda, punya keinginan, punya
masalah dan perhatian yang berbeda. Dan guru adalah ayah dan pendidik
bagi mereka yang mesti meluaskan hatinya untuk mereka, menyayangi dan
mengasihi, lembut dan bersabar atas sulitnya mengajari mereka dan menjelaskan
pemikiran kepada mereka dengan ragamnya kemampuan, keinginan, perilaku dan
tingkat berfikir mereka, karena diantara murid ada yang mampu memahami ungkapan
dan pelajaran dengan satu kali penjelasan, dan ada yang mesti berulang kali dan
dengan penjealasan yang rinci.
Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak
mengutusku sebagai orang yang menyusahkan dan merendahkan orang lain. Akan
tetapi, Allah mengutusku sebagai seorang pengajar (guru) dan pemberi kemudahan.” (HR. Muslim).
Kita sebagai seorang muslim sebenarnya
sudah mempunyai contoh pendidik yang
baik yaitu Nabi Muhammad SAW. Rosulullah telah melahirkan sahabat yang rabbani.
Menurut Al-Ghazali pengertian rabbani
adalah orang yang mendekat kepada Allah dengan ibadah dan keilmuannya. Oleh
sebab itu, wajiblah para pendidik menerapkan hal-hal yang dipaparkan diatas
untuk mencetak generasi Indonesia yang rabbani.
Kamis, 1 Sya’ban 1438 H27 pukul 15.30 WIB
Masjid Mamba'ul Ulum, Universitas Tidar
Oleh Ustadz Muhammad Dzaky Zamani, B.A

0 comments: